Aku merindukanmu. Dan ini menyesakkan dadaku,
membius pernafasanku, mencekat tenggoranku, melumpuhkan tubuhku hingga aku tak
berniat melakukan apapun selain tertidur dalam pelukanmu.
Aku merindukanmu. Senja tak lagi indah
dimataku, hujan hanya membawa kesedihan yang jatuh bersama rintiknya yang
menggigil, tak ada yang ingin kulakukan selain meratap dan membayangkan aroma
tubuhmu bergelantungan dan menjadi udaraku.
Aku memang terlalu angkuh untuk mengatakan
diriku akan baik-baik saja tanpamu. Aku tersakiti oleh diamku sendiri. Aku
takut mengatakan segalanya, takut kalau pada akhirnya ini hanya perasaan yang
fana. Kini semuanya terasa menyesakkan. Tangiskupun kupilih diam.
Saat rinduku tak menemukan jalan pulang, aku
memilih melihat fotomu sebentar, aku berjanji hanya sebentar. Sebab jika tidak,
mati aku jika aku akhirnya memutuskan menghubungimu kembali. Bukan karena aku
gengsi, aku tahu, tidaklah menyenangkan diposisi wanita yang saat ini sudah
menggenggam jemarimu seutuhnya jika aku menghubungi dengan perasaan sekacau ini.
Biarlah rindu ini kupendam sendiri, kelak jika sudah waktunya aku akan menitipkannya pada tempat yang lain. Tapi untuk kali ini biarkan ku simpan saja untukmu bersama dengan kenangan-kenangan yang menyakitkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar