Jumat, 30 Desember 2016

Aku yang Keras Kepala

Senja kali ini, kepalaku masih dipenuhi segala perihalnya. Ia yang tak pernah habis untuk ku cerita.
 Aku ingin berbagi. Mungkin tak sama, tapi setidaknya kita bisa sama-sama merasa.

Aku pernah mencintai seorang lelaki, yang nyatanya tak bisa kumiliki karena hatinya entah berlabuh pada wanita yang mana, yang ku tahu, itu bukan aku. Tapi dengan kebodohan dan keras kepala yang ku punya, aku menunggunya.

Beberapa kali sahabatku berulang kali mencoba meyakinkan. Berjalanlah, untuk apa kau disini? Dia tak lagi ada untukmu. Hingga kebodohanku masih ku pelihara sampai senja ini.

Sebenarnya, melupakannya tak pernah sulit, hanya saja aku tak pernah ingin. Bukan tak mampu, melainkan aku tak mau.

Entah berapa senja lagi yang harus aku lewati sendirian sampai tersadar bahwa kau memang tak lagi tinggal. Bahwa pada akhirnya aku harus sadar kalau bukan aku yang kau pilih.

Aku tak pernah merasa berjuang sendirian, sebab mencintaimu tak pernah ku anggap beban.

Rabu, 14 September 2016

Satu hati, tersia-siakan lagi.

Mencari seseorang yang tak lagi ingin dicari. Tak perlu kau cari, sebab bagaimanapun ia akan berusaha bersembunyi pada hati yang lain. Apapun alasannya, hanya untuk tak membuatmu mencarinya. Hal-hal sepele bahwa kalian memang tak ditakdirkan untuk menjadi satu menjadi alasan paling klasik. Satu hati, tersia-siakan lagi.

Hatiku dan Segala Rahasia

Pada akhirnya, apa yang ku takutkan terjadi juga. Kau menjadi bagian dari masa lalu yang tak sanggup aku reka ulang. Perlahan bayanganmu memunggungiku menjauh dan aku tak lagi bisa menggapaimu.

Kamu akhirnya memilh seseorang yang kamu anggap bisa lebih mengertimu. Aku tahu, aku memang belum bisa memahamimu, belum bisa belum tentu tak mampu kan? Aku sedang berusaha semampuku, namun jika usahaku belum mencapai hasil dan kamu memilh untuk menghentikan semuanya, tak apa, apapun, aku akan menjadi yang paling siap menerima keputusanmu.

Salahku yang tak menerima perasaanmu dari awal. Saat itu memang semuanya terasa begitu cepat, aku yang belum mampu mengembalikan hatiku seutuhnya pada orang lain yang telah mencurinya, pun waktu yang belum menunjukkan perasaan dan diri kita masing-masing. Setelahnya, perasaanku tumbuh begitu hebat dan aku tak mampu membendungnya.

Saat kau  bertanya untuk kedua kalinya tentang perasaanku untukmu, aku memilih diam dan berpaling. Bukan karna aku tidak punya rasa, tapi aku memilih untuk tidak mengutarakannya. Aku takut hanya aku yang merasakannya. Aku takut itu terulang lagi. Aku takut bahwa cinta yang kau ucapkan hanya bagian dari sandiwara-sandriwara yang sudah kau rancang. Telah bertahun-tahun aku memendam cinta sepihak, aku tak ingin itu terjadi pula untukmu. Aku memilih diam setidaknya hari-hari kemudian aku bisa mempertimbangkan untuk memberikan hatiku seutuhnya. Kenyataannya hari itu kau telah membawa semuanya pergi. Kamu pergi berserta dengan harapan-harapanku yang gugur.

Aku tak lagi bisa memahami apakah aku yang terlambat menjagamu? Atau kamu yang menyerah pada cinta terlalu cepat? Maaf jika selama ini hatiku pernuh rahasia, namun harus kau tahu, bagiku kamu tak pernah menjadi sia-sia.

Selasa, 13 September 2016

Terluka, pada bagian yang sama (lagi)

Butuh berpuluh kali bujukan untuk hatiku agar menerimamu dengan lapang dan penuh cinta. Kau tahu betul, bahwa di hatiku ada lelaki yang telah lama bersemayam dan menorehkanku luka yang belum ingin aku sembuhkan. aku begitu betahnya bermain dengan lukaku sampai Tuhan mengirimmu sebagai orang yang harus aku pertimbangkan. Aku tidak tahu apa maksud Tuhan mendatangkanmu. Untuk menyembuhkan lukaku kah? Atau untuk menambah lukaku pada bagian lain? Sampai pada bujukan terakhir untuk hatiku, berhenti mempertimbangkanmu. Bahwa setelahnya, kita harus mulai berjuang bersama mulai dari sekarang. Bahwa kita harus menjadi dua orang yang mencinta dengan begitu sederhana. Sampai pada puncak ketetapan hatiku, kau malah memilih berhenti dan menghilang. Bukan soal kepergianmu, bukan. Ini persoalan caramu yang pergi begitu saja setelah kau menerbangkanku jauh tapi menjatuhkanku ke bagian yang menyakitkan. Aku terluka lagi, dan pada bagian yang sama; hatiku. Akhirnya kecemasan orang-orang padaku tentangmu terjawab sudah, bahwa memang kita tak cukup kuat disatukan rasa. Ku yakinkan mereka bahwa bukan kamu yang salah, akulah yang mungkin salah mencintaimu sampai kau akhirnya memutuskan pergi. Sebab jika tidak, mana mungkin kau senang tinggal pada sebuah rumah yang tak kau temukan kedamaian di dalamnya?. Aku tahu, tak pantas aku memaksamu tinggal. Bukan karna aku tak benar-benar memiliki rasa untukmu, tapi aku tak ingin terlihat takut sendirian. Sebab memaksamu untuk tinggal hanya akan melemahkan benteng pertahananku bahwa aku kuat. Aku memang kuat, hatiku saja yang hancur. Tak masalah, aku pernah lebih terluka dari ini, jadi saat kau menambahkan lukanyapun sebisaku untuk menopang tubuhku agar tak tumbang menahan beban sendirian. Namun bolehkah aku berpesan? Jangan seperti ini lagi pada perempuan lain. Cukup aku saja yang kau perlakukan seperti ini, aku tak ingin Tuhan menyakitimu, cukup aku saja. Dan kelak ketika kau ingin pulang pada pelukanku, harus kau tahu, akan ada yang tak sama seperti dulu lagi. Menerimamu tak akan semudah saat kau datang pertama kali.

Kamis, 08 September 2016

Yang Melukaiku, Perasaanku Sendiri


Pernah heran sama diri sendiri, ketika kita memutuskan untuk menjalani semuanya seperti aliran air, aku berpuluh kali membujuk hatiku untuk berdamai. Aku senang aku berhasil, karena nyatanya setetes air matapun mampu untuk tak ku keluarkan. Aku tahu cepat atau lambat, waktulah yang akan menjawab perasaan kita. Aku sedikitnya menaruh harapan bahwa kau akan pulang pada pelukanku setelah berjalan jauh.
Namun malam-malam setelah kesepakatan kita waktu itu, hatiku mengalah, mataku mulai basah. Maafkan aku, aku tak mampu untuk tak menangis. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Entah kenapa malam ini aku begitu yakin bahwa kau tak akan pulang. Aku begitu yakin kalau kau akhirnya memutuskan untuk tinggal pada hati yang lain setelah perjalanan jauhmu.
Kenapa sakitnya baru terasa?
Kenapa malam ini aku tak mampu mendamaikan hatiku seperti malam-malam sebelumnya?
Kenapa kamu memilih untuk tinggal pada hati yang lain?
Apa aku salah orang? Atau caraku yang salah mencintaimu?
Harusnya dari awal tak ku taruh harapan ini, sebab aku tahu, yang melukaiku bukan kamu, tapi perasaanku sendiri.


Minggu, 28 Agustus 2016

Cukup Sekali untuk Cinta

Butuh waktu bertahun-tahun untuk menerima kepergianmu tanpa kabar sedikitpun. Kau menghilang seperti ada topan yang membawamu pergi dan meluluhlantakkan hatiku tanpa ada yang tersisa. Semuanya rusak. Beberapa orang coba memperbaiki, termasuk diriku sendiri, tapi tak ada yang berhasil. Bukan karena kau begitu special hingga aku tak mampu pulih, tapi luka yang kau torehkan memang hanya waktu yang mampu menyembuhkannya. Saat waktu kemudian membawamu kembali, bukan berarti aku tak merindukan hingga aku berharap memang kau tak pernah kembali, aku hanya tak ingin membuat waktu kita sia-sia. Aku hanya ingin menyadarkanmu bahwa dunia kita tak lagi sama. Tidak perlu mempersoalkan siapa yang paling terluka, tugas kita sekarang hanya sebatas sama-sama menguatkan apa yang sudah kita pilih. Harus kau mengerti, kita tak bisa mencintai seseorang dengan perasaan yang sama, dua kali.