Butuh berpuluh kali bujukan
untuk hatiku agar menerimamu dengan lapang dan penuh cinta. Kau tahu betul,
bahwa di hatiku ada lelaki yang telah lama bersemayam dan menorehkanku luka
yang belum ingin aku sembuhkan. aku begitu betahnya bermain dengan lukaku
sampai Tuhan mengirimmu sebagai orang yang harus aku pertimbangkan. Aku tidak
tahu apa maksud Tuhan mendatangkanmu. Untuk menyembuhkan lukaku kah? Atau untuk
menambah lukaku pada bagian lain? Sampai pada bujukan terakhir untuk hatiku,
berhenti mempertimbangkanmu. Bahwa setelahnya, kita harus mulai berjuang
bersama mulai dari sekarang. Bahwa kita harus menjadi dua orang yang mencinta
dengan begitu sederhana. Sampai pada puncak ketetapan hatiku, kau malah memilih
berhenti dan menghilang. Bukan soal kepergianmu, bukan. Ini persoalan caramu
yang pergi begitu saja setelah kau menerbangkanku jauh tapi menjatuhkanku ke
bagian yang menyakitkan. Aku terluka lagi, dan pada bagian yang sama; hatiku.
Akhirnya kecemasan orang-orang padaku tentangmu terjawab sudah, bahwa memang
kita tak cukup kuat disatukan rasa. Ku yakinkan mereka bahwa bukan kamu yang
salah, akulah yang mungkin salah mencintaimu sampai kau akhirnya memutuskan
pergi. Sebab jika tidak, mana mungkin kau senang tinggal pada sebuah rumah yang
tak kau temukan kedamaian di dalamnya?. Aku tahu, tak pantas aku memaksamu
tinggal. Bukan karna aku tak benar-benar memiliki rasa untukmu, tapi aku tak
ingin terlihat takut sendirian. Sebab memaksamu untuk tinggal hanya akan melemahkan
benteng pertahananku bahwa aku kuat. Aku memang kuat, hatiku saja yang hancur.
Tak masalah, aku pernah lebih terluka dari ini, jadi saat kau menambahkan
lukanyapun sebisaku untuk menopang tubuhku agar tak tumbang menahan beban
sendirian. Namun bolehkah aku berpesan? Jangan seperti ini lagi pada perempuan
lain. Cukup aku saja yang kau perlakukan seperti ini, aku tak ingin Tuhan
menyakitimu, cukup aku saja. Dan kelak ketika kau ingin pulang pada pelukanku,
harus kau tahu, akan ada yang tak sama seperti dulu lagi. Menerimamu tak akan
semudah saat kau datang pertama kali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar