Pada
akhirnya, apa yang ku takutkan terjadi juga. Kau menjadi bagian dari masa lalu
yang tak sanggup aku reka ulang. Perlahan bayanganmu memunggungiku menjauh dan
aku tak lagi bisa menggapaimu.
Kamu akhirnya
memilh seseorang yang kamu anggap bisa lebih mengertimu. Aku tahu, aku memang
belum bisa memahamimu, belum bisa belum tentu tak mampu kan? Aku sedang
berusaha semampuku, namun jika usahaku belum mencapai hasil dan kamu memilh
untuk menghentikan semuanya, tak apa, apapun, aku akan menjadi yang paling siap
menerima keputusanmu.
Salahku yang
tak menerima perasaanmu dari awal. Saat itu memang semuanya terasa begitu
cepat, aku yang belum mampu mengembalikan hatiku seutuhnya pada orang lain yang
telah mencurinya, pun waktu yang belum menunjukkan perasaan dan diri kita
masing-masing. Setelahnya, perasaanku tumbuh begitu hebat dan aku tak mampu
membendungnya.
Saat kau bertanya untuk kedua kalinya tentang
perasaanku untukmu, aku memilih diam dan berpaling. Bukan karna aku tidak punya
rasa, tapi aku memilih untuk tidak mengutarakannya. Aku takut hanya aku yang
merasakannya. Aku takut itu terulang lagi. Aku takut bahwa cinta yang kau
ucapkan hanya bagian dari sandiwara-sandriwara yang sudah kau rancang. Telah
bertahun-tahun aku memendam cinta sepihak, aku tak ingin itu terjadi pula
untukmu. Aku memilih diam setidaknya hari-hari kemudian aku bisa
mempertimbangkan untuk memberikan hatiku seutuhnya. Kenyataannya hari itu kau
telah membawa semuanya pergi. Kamu pergi berserta dengan harapan-harapanku yang
gugur.
Aku tak lagi bisa
memahami apakah aku yang terlambat menjagamu? Atau kamu yang menyerah pada
cinta terlalu cepat? Maaf jika selama ini hatiku pernuh rahasia, namun harus
kau tahu, bagiku kamu tak pernah menjadi sia-sia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar