Mencari seseorang yang tak lagi ingin dicari.
Tak perlu kau cari, sebab bagaimanapun ia akan berusaha bersembunyi pada hati
yang lain. Apapun alasannya, hanya untuk tak membuatmu mencarinya. Hal-hal
sepele bahwa kalian memang tak ditakdirkan untuk menjadi satu menjadi alasan
paling klasik. Satu hati, tersia-siakan lagi.
Rabu, 14 September 2016
Hatiku dan Segala Rahasia
Pada
akhirnya, apa yang ku takutkan terjadi juga. Kau menjadi bagian dari masa lalu
yang tak sanggup aku reka ulang. Perlahan bayanganmu memunggungiku menjauh dan
aku tak lagi bisa menggapaimu.
Kamu akhirnya
memilh seseorang yang kamu anggap bisa lebih mengertimu. Aku tahu, aku memang
belum bisa memahamimu, belum bisa belum tentu tak mampu kan? Aku sedang
berusaha semampuku, namun jika usahaku belum mencapai hasil dan kamu memilh
untuk menghentikan semuanya, tak apa, apapun, aku akan menjadi yang paling siap
menerima keputusanmu.
Salahku yang
tak menerima perasaanmu dari awal. Saat itu memang semuanya terasa begitu
cepat, aku yang belum mampu mengembalikan hatiku seutuhnya pada orang lain yang
telah mencurinya, pun waktu yang belum menunjukkan perasaan dan diri kita
masing-masing. Setelahnya, perasaanku tumbuh begitu hebat dan aku tak mampu
membendungnya.
Saat kau bertanya untuk kedua kalinya tentang
perasaanku untukmu, aku memilih diam dan berpaling. Bukan karna aku tidak punya
rasa, tapi aku memilih untuk tidak mengutarakannya. Aku takut hanya aku yang
merasakannya. Aku takut itu terulang lagi. Aku takut bahwa cinta yang kau
ucapkan hanya bagian dari sandiwara-sandriwara yang sudah kau rancang. Telah
bertahun-tahun aku memendam cinta sepihak, aku tak ingin itu terjadi pula
untukmu. Aku memilih diam setidaknya hari-hari kemudian aku bisa
mempertimbangkan untuk memberikan hatiku seutuhnya. Kenyataannya hari itu kau
telah membawa semuanya pergi. Kamu pergi berserta dengan harapan-harapanku yang
gugur.
Aku tak lagi bisa
memahami apakah aku yang terlambat menjagamu? Atau kamu yang menyerah pada
cinta terlalu cepat? Maaf jika selama ini hatiku pernuh rahasia, namun harus
kau tahu, bagiku kamu tak pernah menjadi sia-sia.
Selasa, 13 September 2016
Terluka, pada bagian yang sama (lagi)
Butuh berpuluh kali bujukan
untuk hatiku agar menerimamu dengan lapang dan penuh cinta. Kau tahu betul,
bahwa di hatiku ada lelaki yang telah lama bersemayam dan menorehkanku luka
yang belum ingin aku sembuhkan. aku begitu betahnya bermain dengan lukaku
sampai Tuhan mengirimmu sebagai orang yang harus aku pertimbangkan. Aku tidak
tahu apa maksud Tuhan mendatangkanmu. Untuk menyembuhkan lukaku kah? Atau untuk
menambah lukaku pada bagian lain? Sampai pada bujukan terakhir untuk hatiku,
berhenti mempertimbangkanmu. Bahwa setelahnya, kita harus mulai berjuang
bersama mulai dari sekarang. Bahwa kita harus menjadi dua orang yang mencinta
dengan begitu sederhana. Sampai pada puncak ketetapan hatiku, kau malah memilih
berhenti dan menghilang. Bukan soal kepergianmu, bukan. Ini persoalan caramu
yang pergi begitu saja setelah kau menerbangkanku jauh tapi menjatuhkanku ke
bagian yang menyakitkan. Aku terluka lagi, dan pada bagian yang sama; hatiku.
Akhirnya kecemasan orang-orang padaku tentangmu terjawab sudah, bahwa memang
kita tak cukup kuat disatukan rasa. Ku yakinkan mereka bahwa bukan kamu yang
salah, akulah yang mungkin salah mencintaimu sampai kau akhirnya memutuskan
pergi. Sebab jika tidak, mana mungkin kau senang tinggal pada sebuah rumah yang
tak kau temukan kedamaian di dalamnya?. Aku tahu, tak pantas aku memaksamu
tinggal. Bukan karna aku tak benar-benar memiliki rasa untukmu, tapi aku tak
ingin terlihat takut sendirian. Sebab memaksamu untuk tinggal hanya akan melemahkan
benteng pertahananku bahwa aku kuat. Aku memang kuat, hatiku saja yang hancur.
Tak masalah, aku pernah lebih terluka dari ini, jadi saat kau menambahkan
lukanyapun sebisaku untuk menopang tubuhku agar tak tumbang menahan beban
sendirian. Namun bolehkah aku berpesan? Jangan seperti ini lagi pada perempuan
lain. Cukup aku saja yang kau perlakukan seperti ini, aku tak ingin Tuhan
menyakitimu, cukup aku saja. Dan kelak ketika kau ingin pulang pada pelukanku,
harus kau tahu, akan ada yang tak sama seperti dulu lagi. Menerimamu tak akan
semudah saat kau datang pertama kali.
Kamis, 08 September 2016
Yang Melukaiku, Perasaanku Sendiri
Pernah heran sama diri sendiri, ketika kita memutuskan untuk
menjalani semuanya seperti aliran air, aku berpuluh kali membujuk hatiku untuk
berdamai. Aku senang aku berhasil, karena nyatanya setetes air matapun mampu
untuk tak ku keluarkan. Aku tahu cepat atau lambat, waktulah yang akan menjawab
perasaan kita. Aku sedikitnya menaruh harapan bahwa kau akan pulang pada
pelukanku setelah berjalan jauh.
Namun malam-malam setelah kesepakatan kita waktu itu, hatiku
mengalah, mataku mulai basah. Maafkan aku, aku tak mampu untuk tak menangis. Aku
tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Entah kenapa malam ini aku begitu
yakin bahwa kau tak akan pulang. Aku begitu yakin kalau kau akhirnya memutuskan
untuk tinggal pada hati yang lain setelah perjalanan jauhmu.
Kenapa sakitnya baru terasa?
Kenapa malam ini aku tak mampu mendamaikan hatiku seperti malam-malam sebelumnya?
Kenapa kamu memilih untuk tinggal pada hati yang lain?
Apa aku salah orang? Atau caraku yang salah mencintaimu?
Harusnya dari awal tak ku taruh harapan ini, sebab aku tahu, yang melukaiku bukan kamu, tapi perasaanku sendiri.
Kenapa sakitnya baru terasa?
Kenapa malam ini aku tak mampu mendamaikan hatiku seperti malam-malam sebelumnya?
Kenapa kamu memilih untuk tinggal pada hati yang lain?
Apa aku salah orang? Atau caraku yang salah mencintaimu?
Harusnya dari awal tak ku taruh harapan ini, sebab aku tahu, yang melukaiku bukan kamu, tapi perasaanku sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)